Di era media sosial, hidup kita seringkali dikendalikan oleh algoritma. Apa yang trending, yang masuk FYP, atau yang viral, tanpa sadar membentuk cara kita berpikir dan bertindak. Akhirnya, banyak dari kita hanya menjadi follower dan lupa mengenali diri sendiri.
Pada Nongkrong Tobat Spesial di Santrendelik Semarang beberapa waktu lalu, Dr Fahruddin Faiz, ustaz sekaligus akademisi filsafat dari Yogyakarta, mengajak anak muda untuk kembali pada satu hal mendasar: autentisitas.
Menurut Ustaz Faiz, autentisitas berarti menjadi diri sejati. Bukan sekadar menjalani hidup mengikuti arus, tapi benar-benar mengenali, menerima, dan menghidupi diri kita sendiri. Beberapa filsuf, dia mengatakan, memiliki pandangan menarik terkait hal ini.
Erich Fromm menyebut autentik sebagai becoming, proses aktif untuk tumbuh dan berkembang, bukan sekadar being atau pasif menerima keadaan.
Sementara itu, Ali Syariati menekankan bahwa manusia harus mampu menaklukkan empat tantangan: alam semesta, diri sendiri, masyarakat, dan sejarah. Semua itu hanya bisa dihadapi apabila kita benar-benar hidup autentik.
Dr Faiz mengingatkan, musuh terbesar manusia sering kali adalah dirinya sendiri. Kita sibuk mengurus dunia luar, tapi lupa berdialog dengan hati dan pikiran kita.
Autentisitas bisa dimulai dengan langkah sederhana:
Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, seorang peserta sempat bertanya bagaimana membedakan autentisitas dengan persona, terutama di dunia maya. Menanggapi hal ini, Ustaz Faiz mengatakan bahwa hanya diri sendirilah yang tahu bahwa kita autentik atau tidak.
“Yang tahu kita autentik atau tidak hanyalah diri sendiri,” tuturnya, lalu menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Autentik adalah ketika kita menerima diri kita apa adanya, lalu bertindak sesuai hal yang relevan bagi kita, bukan semata-mata untuk citra.”
Pesan ini terasa dekat sekali dengan kegelisahan kita hari-hari ini. Di tengah tekanan sosial dan ekspektasi digital, banyak yang mencari jati diri. Nongkrong Tobat Santrendelik pun jadi ruang alternatif untuk belajar agama, filsafat, sekaligus merenung tentang siapa kita sebenarnya.
Autentisitas bukan sekadar jargon filsafat, tapi jalan hidup. Malam itu, Dr Faiz mengajarkan kita untuk jujur pada diri sendiri, berani berbeda, dan tetap teguh pada nilai yang diyakini. (*)
Ditulis berdasarkan artikel bertajuk “Menyoal Autentisitas bersama Fahruddin Faiz dan Ribuan Mahasiswa di Santrendelik“ yang terbit di Inibaru.id
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt
Don't show again
Yes, I want it!