“CAPEK JADI BAIK”: CATATAN RENUNGAN DARI SANTRENDELIK

Pada Kamis malam Jumat, 28 Agustus 2025, sebuah diskusi yang hangat namun penuh renungan digelar di Santrendelik. Acara ini menghadirkan tokoh yang dikenal bijak dalam tutur dan dalam dalam makna, yaitu Ustadz Moh. Amin Al Hafidz, dengan topik diskusi yang begitu menarik perhatian, “Capek Jadi Baik”. Pertanyaan sederhana namun penuh paradoks. Benarkah menjadi baik itu melelahkan, atau justru kelelahan itu lahir karena kita belum memahami hakikat kebaikan?

Diskusi ini menjawab siapa, kapan, di mana, apa, mengapa, dan bagaimana pertanyaan yang sering menghantui benak manusia modern: mengapa kebaikan kadang terasa berat?

Ustadz Amin membuka dengan pemahaman mendasar, bahwa segala sesuatu yang berlebihan akan melahirkan kebosanan. Dalam istilah Jawa, ada pepatah sederhana, “sak madyo ne mawon” cukup, secukupnya, dan tidak berlebih. Kebaikan bukanlah paksaan yang harus dihabiskan sekaligus, melainkan laku yang terus menerus dipupuk, sebagaimana air yang menetes perlahan namun mampu melubangi batu.

Lebih jauh, beliau menyinggung bahwa istiqomah dalam berbuat baik membutuhkan seni pengelolaan jiwa. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya kebaikan yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri.” Ayat ini tidak sekadar janji spiritual, melainkan hukum kausalitas moral, kebaikan yang kita tanam adalah investasi yang akan pulang kepada diri kita, entah dalam bentuk ketenangan, keselamatan, atau bahkan rezeki yang tak terduga.

Menariknya, kebaikan bukan hanya perkara memberi, melainkan juga menahan terjadinya musibah dalam diri. Setiap kebaikan ada energi yang meredam potensi bencana, baik lahir maupun batin. Ustadz Amin mengaitkannya dengan konsep sodakoh, sebuah bentuk kebaikan yang secara nyata disebut sebagai tolak bala. Esensi sodakoh adalah menghadirkan kebahagiaan pada orang lain. Kita tidak kehilangan dengan memberi, justru memperluas ruang hidup dan meredakan beban yang mungkin menimpa kita.

Lebih jauh, pembicara menambahkan dimensi eksistensial. Kebaikan yang semakin banyak dilakukan, justru memperpanjang umur. Bukan sekadar panjang dalam hitungan waktu, melainkan panjang dalam makna, karena hidup kita berlanjut dalam kebaikan yang diwariskan. Hidup tidak lagi diukur oleh detik jam dinding, tetapi oleh jejak yang tetap tertinggal di hati orang lain.

Lalu bagaimana agar kita tidak merasa “capek jadi baik”? Jawabannya sederhana namun mendalam, jangan memandang kebaikan sebagai beban, melainkan sebagai napas kehidupan itu sendiri. Sama seperti bernafas yang tak pernah kita keluhkan, begitu pula kebaikan. Ia seharusnya menjadi denyut alami keberadaan kita.

Diskusi malam itu berakhir dengan kesadaran bersama. Menjadi baik memang membutuhkan tenaga, tetapi lebih melelahkan jika kita berhenti. Sebab berhenti berarti kehilangan arah, kehilangan makna, bahkan kehilangan perlindungan yang kebaikan bawa. Maka, sebagaimana filsafat Jawa berpesan, lakukanlah kebaikan dengan sederhana, sak madyo ne mawon, tapi istiqomah. Karena di sanalah kita menemukan keseimbangan antara manusia dan semesta. Kebaikan tidak pernah membuat kita letih, justru ia yang menjaga kita dari letihnya hidup tanpa arah. Manusia tidak diukur dari berapa lama ia hidup, tetapi dari seberapa jauh kebaikan membuat hidupnya terus berlanjut.

“Capek Jadi Baik”: Catatan Renungan dari Santrendelik

Pernahkah kamu merasa lelah karena terus berusaha menjadi pribadi yang baik? Sudah berbuat banyak kebaikan, tetapi hati justru terasa berat? Pertanyaan itulah yang menjadi pokok bahasan dalam diskusi hangat di Nongkrong Tobat Santrendelik pada Kamis malam Jumat (28/8/2025).

Hadir sebagai pemantik, Ustadz Moh. Amin Al Hafidz mengajak para jamaah merenungkan topik yang sederhana tapi dalam: “Capek Jadi Baik.” Menurutnya, rasa lelah itu muncul bukan karena kebaikan itu sendiri, melainkan karena kita belum benar-benar memahami hakikatnya.

Segala sesuatu yang berlebihan pasti bikin bosan,” tutur Ustadz Amin. Ia lalu mengutip pepatah Jawa, sak madyo ne mawon cukup, secukupnya, tidak berlebih. Bagi beliau, kebaikan itu bukan paksaan yang harus dihabiskan sekaligus, melainkan laku yang terus dipupuk. Persis seperti tetes air yang perlahan tapi mampu melubangi batu.

Al-Qur’an mengingatkan, kebaikan yang kita lakukan sejatinya kembali pada diri kita. “Ini bukan sekadar janji spiritual, tapi hukum kausalitas moral,” jelasnya. Kebaikan bisa menjelma jadi ketenangan batin, keselamatan, bahkan rezeki tak terduga.

Menariknya, kebaikan juga punya daya tolak bala. Ustadz Amin mencontohkan lewat sedekah. Memberi pada orang lain nggak bikin kita kehilangan apa-apa, justru memperluas ruang hidup dan mengurangi beban yang mungkin menimpa.

Menurutnya, kebaikan bahkan bisa memperpanjang umur. Bukan panjang dalam hitungan kalender, melainkan dalam makna. Hidup kita akan terus berlanjut lewat jejak kebaikan yang ditinggalkan. “Hidup itu bukan soal jam dinding, tapi soal jejak yang tertinggal di hati orang lain,” katanya.

Kuncinya ada di cara pandang. Kalau kebaikan diposisikan sebagai beban, ya wajar terasa melelahkan. Tapi kalau ia kita anggap sebagai napas kehidupan seperti bernafas yang nggak pernah kita keluhkan maka kebaikan jadi denyut alami keberadaan.

Diskusi malam itu ditutup dengan satu kesadaran bersama: memang butuh tenaga untuk jadi baik, tapi lebih melelahkan kalau kita berhenti. Sebab berhenti berarti kehilangan arah, kehilangan makna, bahkan kehilangan perlindungan yang kebaikan bawa.

Maka, seperti pesan filsafat Jawa, lakukanlah kebaikan dengan sederhana. Sak madyo ne mawon, tapi istiqomah. Karena justru di sanalah manusia menemukan keseimbangan dengan semesta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Officia Deserunt Mollit Anim Nostrud

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt

Promo Don't show again Yes, I want it!
Chat WhatsApp
WhatsApp