Bagi sebagian orang, kreativitas hanya soal seni atau bisnis. Namun, bagi Ikhwan Syaefulloh, kreativitas adalah jalan hidup; ruang untuk menemukan keseimbangan antara bekerja, bersenang-senang, dan beragama.
Dari kecintaannya pada seni dan ide-ide segar, lahirlah berbagai karya dan komunitas, termasuk Santrendelik, forum mengaji anak muda yang kini tumbuh menjadi salah satu yang terbesar di Kota Semarang.
Lahir di Banjarnegara, 7 September 1981, Ikhwan akrab dengan dunia seni sejak muda. Setelah menempuh pendidikan SD hingga SMA di tanah kelahiran, dia hijrah ke Kota Semarang untuk kuliah di jurusan Seni Rupa, sebelum menimba Ilmu Komunikasi di Jakarta.
Di Semarang inilah Ikhwan mulai berkembang, terutama setelah mulai bekerja lepas sebagai desainer grafis. Bermodalkan komputer pinjaman, dia mengikuti kompetisi desain hingga tingkat internasional.
Dari situ, jalan kreativitasnya makin lebar, termasuk merintis usaha dekorasi event, agensi kreatif, hingga perusahaan konsultan pariwisata bernama Melawan Arus pada 2009.
“Usaha-usaha ini nggak selalu berjalan mulus, ya. Namun, orang tua selalu mengajari saya untuk meneguhkan hati. Tetap fokus dan mendedikasikan diri untuk masyarakat. Itu kuncinya,” kenang Ikhwan.
Semangat itu pula yang mendorongnya mendirikan The Pikas Artventure Resort pada 2011. Wisata arung jeram di Sungai Serayu Banjarnegara itu dia kembangkan bersama rekan-rekannya dengan konsep green, art, and adventure.
Kecintaan Ikhwan pada seni berlanjut dengan mendirikan IKSA, startup kreatif berbasis di Semarang yang fokus pada media kreatif dan branding.
“Di IKSA, mayoritas adalah anak muda; yang nggak cuma secara fisik, tapi juga muda pikirannya,” kelakarnya. “Klien kami beragam; mulai dari perorangan hingga perusahaan.”
Menurut Ikhwan, bekerja dengan anak muda penting karena mereka punya imajinasi segar. “Anak muda ini pas kalau diajak berpikir yang melibatkan daya imajinasi dan kreativitas untuk menciptakan ide baru atau menyelesaikan masalah dengan cara yang menyenangkan.”

Bagi Ikhwan, semua hal harus sesuai porsinya. Itulah keseimbangan yang selalu dia cari, baik dalam bisnis maupun dalam kehidupan spiritual.
Prinsip keseimbangan itu pula yang kemudian membawanya mendirikan Santrendelik pada 2013. Berawal dari forum kecil di sebuah kafe, komunitas ini tumbuh menjadi ruang belajar agama yang ramah, kritis, dan menyenangkan bagi anak muda.
“Ruh Santrendelik adalah kreativitas dan keingintahuan anak muda yang luar biasa besar. Program ‘Nongkrong Tobat’ itu mengangkat tema sehari-hari; tapi karena ulama yang didatangkan logis dan nggak judgmental, jemaah betah dan berani kritis,” terangnya.
Santrendelik kini tidak hanya menggelar kajian mingguan, tetapi juga rutin mengadakan pelatihan soft skill seperti public speaking, penulisan kreatif, hingga pembuatan film dokumenter.
“(Santrendelik) yang semula kami bikin hanya untuk memenuhi kebutuhan spiritual pribadi, kini jadi semakin meluas dan melibatkan berbagai kalangan,” jelasnya dengan bangga. (*)
Ditulis berdasarkan artikel bertajuk Dunia Kreatif Founder Santrendelik Ikhwan Syaefulloh yang terbit di Inibaru.id
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt
Don't show again
Yes, I want it!